Judi online indonesia AS Monaco – Radamel Falcao Garcia Zarate atau sering disapa Radamel Falcao adalah pesepakbola profesional asal Kolombia. Pemain kelahiran 10 Februari 1986 ini bermain untuk klub Ligue 1 Prancis, AS Monaco dan tim nasional Kolombia. Ia juga sering dijuluki sebagai El Tigre atau The Tiger dan King of the Europa League.

Falcao memulai kariernya bersama klub Lanceros Boyaca di kompetisi Colombian Categoria Primera B 1999, kasta kedua kompetisi sepakbola Kolombia. Saat itu usianya masih 13 tahun 199 hari. Alhasil, Falcao pun menjadi debutan termuda di level sepakbola profesional kolombia. Di tahun 2000, pelatih Lanceros, Hernan Pacheco mulai serius mengembangkan bakat Falcao saat usianya 14 tahun. Ia pun dimainkan sebanyak tujuh kali sepanjang musim tersebut.

Pada 25 Juli 2000 di Estadio Olimpico del Sol, Sogamoso, Falcao menceploskan gol debutnya, yang sekaligus mengunci kemenangan 2-0 timnya melawan Club El Condor. Lanceros pun beranjak dari papan bawah klasemen berkat kemenangan itu. Total selama dua tahun kariernya bersama Lanceros Boyaca, El Tigre muda bermain sebanyak delapan kali dan menceploskan satu gol.

Bakatnya pun mulai tercium oleh klub-klub besar di Amerika Selatan. Salah satunya adalah klub besar Argentina, River Plate. Pada Februari 2001, Falcao resmi hijrah ke River Plate dengan nilai fee USD 500 ribu. Ia memulai petualangannya di klub tersebut dari tim muda, yang bermain di divisi kedelapan kompetisi sepakbola Argentina. Empat tahun mengasah kemampuannya bersama tim muda, pelatih River, Leonardo Astrada pun akhirnya memberi debut kepada Radamel Falcao di tim senior. Pada tahun 2005, Falcao dimainkan pada laga kontra Insituto de Cordoba dalam ajang Torneo Clausura.

Radamel Falcao akhirnya mencapai prestasi tertinggi bersama River Plate di musim 2007/08, yang mana ia dan timnya sukses menjuarai turnamen Clausura. Penampilan apiknya bersama River, tak dipungkiri cukup mencuri perhatian para pencari bakat dari Eropa. Akhirnya, FC Porto memboyong Falcao ke Eropa pada tahun 2009.

Di sana ia juga berhasil meraih kejayaan. Beberapa trofi sukses didapatnya bersama Porto, termasuk double winners di tahun 2001. Saat itu Porto sukses menjuarai Liga Europa dan Primeira Liga. Falcao juga menjadi pencetak gol terbanyak di level internasional untuk klub Portugal itu dengan jumlah 17 gol. Tak tanggung-tanggung, Falcao meraih Golden Ball award dan menjadi pemain asal Kolombia pertama yang sukses meraih penghargaan tersebut di Portugal.

Agustus 2011, Falcao pun mencoba peruntungan lain dengan bergabung ke klub La Liga, Atletico Madrid. Saat itu ia menjadi pemain termahal Judi online indonesia yang pernah dibeli Atletico dengan mahar 40 juta euro. Tak butuh waktu lama untuk Falcao bisa nyetel dengan Los Colchoneros. Di tahun 2012, Atletico dibawanya berjaya di pentas Liga Europa dan Piala Super Eropa. Di musim tersebut, Falcao menjadi topskorer di Liga Europa untuk kedua kalinya dan menjadi satu-satunya pemain yang berhasil menjuarai Liga Europa dua kali beruntun bersama dua tim yang berbeda.

Akan tetapi seperti kebanyakan striker Atletico Madrid lainnya, karier Falcao juga tidak lama di Vicente Calderon. Ia lalu diboyong oleh klub kaya Ligue 1, AS Monaco dengan memecahkan rekor transfer klub senilai 60 juta euro di bulan Mei 2013. Akan tetapi, cedera ACL membuatnya harus menepi selama beberapa bulan. Pada akhirnya, Monaco sempat meminjamkan Falcao selama dua musim di Premier League. Selama dua musim itu, Falcao bermain utnuk dua tim yang berbeda, yakni Manchester United dan Chelsea. Akan tetapi, bersama dua itm itu ia sama sekali tidak memberikan penampilan maksimal seperti di musim-musim sebelumnya. Falcao justru lebih sering berkutat dengan cederanya.

Setelah masa peminjamannya di Chelsea selesai, Radamel Falcao pun kembali ke Monaco. Hal itu terjadi setelah The Blues enggan mengaktifkan opsi pembelian Falcao di akhir musim. Sekembalinya ke tim Prancis itu, Falcao didapuk sebagai kapten tim. Ia pun menjadi pemain tersubur Monaco di musim 2016/17. Bersama Monaco, El Tigre kembali mengamuk setelah sempat tertidur selama beberapa musim terakhir akibat cederanya.