Perjuangan Suriah Menuju Piala Dunia 2018 dan Dilema Firas Al Khatib

Agen bola piala dunia 2018 – Tidak ada yang mengira Suriah mampu berbicara banyak pada babak Kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Asia. Negara yang tengah dilanda perang saudara itu nyatanya menjadi salah satu kandidat kuat pemegang satu tiket menuju ke Rusia tahun depan.

Pada partai terakhir kualifikasi babak ketiga melawan Iran pada 5 September lalu, Suriah berhasil mencatatkan hasil imbang 2-2, yang menjaga asa mereka untuk bisa tampil di Piala Dunia. Bahkan dua gol yang dilesakkan Suriah ke gawang Iran sekaligus menghentikan rekor clean sheet tuan rumah, yang telah bertahan selama 13 pertandingan.

Sukacita dan kegembiraan pun diluapkan oleh para pemain Suriah. Hasil imbang yang berhasil mereka raih seperti menjadi jembatan penghubung menuju Piala Dunia 2018, yang akan menjadi Piala Dunia pertama mereka sepanjang sejarah. Seorang komentator sepakbola Suriah bahkan tak kuasa menahan luapan emosi gembiranya ketika Suriah mencetak gol penyama kedudukan pada pertandingan yang digelar di Azadi Stadium itu.

“Gol kedua! Gol kedua untuk tim Suriah! Siapa? Siapa yang mencetak gol itu? Somah! Ya, benar! Itu Somah! Itu adalah Somah!” teriak komentator itu setelah Omar Al Somah mencetak gol pada menit ke 93. “Maafkan saya! saya sudah kehilangan [kontrol emosi], tidak ada yang bisa menghentikan mereka!”

Hasil imbang melawan Suriah ini telah mengehentikan kesempurnaan Iran di babak kualifikasi. Iran yang telah mencatatkan 1.121 menit tanpa kebobolan harus menerima kenyataan ketika pemain Suriah, Tamer Haj Mohamed mencetak gol pada menit ke-13.

Tidak Terpengaruh Situasi Politik

Suriah telah mengalami enam tahun penderitaan akibat pecahnya perang saudara, sehingga membuat kata gembira, tawa, dan canda menjadi sesuatu yang sangat langka di salah satu negara Asia Barat itu. Akan tetapi, akhir-akhir ini, sepakbola seakan-akan menjadi suatu oase di tengah padang yang tandus akan keceriaan. Suriah setidaknya punya sedikit alasan untuk bisa bergembira hari ini, berpesta sambil berharap oleh karena hasil positif yang telah dicapai timnas sepakbola mereka.

Suriah telah berjuang dengan luar biasa pada babak kualifikasi ini karena mereka melakukan itu di tengah situasi yang serba terbatas akibat perang saudara. Berkali-kali mereka harus melakoni laga kandang di negara lain karena tidak kondusifnya situasi dalam negara mereka. Suriah bahkan pernah menggelar pertandingan kandang di Malaysia.

Suriah telah menunjukkan bahwa kualitas skuat mereka tidak terpengaruh oleh situasi sosial dan politik negara mereka. Tim berjuluk Qasiun Eagles ini juga pernah ditinggal beberapa pemain kunci mereka sebagai bentuk protes kepada rezim Bashar Al Assad. Salah satu dari pemain kunci itu adalah Firas Al Khatib.

Penyerang sekaligus kapten tim berusia 34 tahun itu berandil besar dalam membawa Suriah lolos ke babak play-off kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Asia. Sebelumnya ia telah malang melintang di timnas Suriah sejak membela timnas Suriah U-17 di masa mudanya. Akan tetapi, di tengah kontribusi besarnya bagi timnas Suriah, di sisi lain Khatib adalah bagian dari kelompok oposisi pemerintah.

“Saya takut, saya khawatir. Saat ini di Suriah, jika Anda berani menyampaikan pendapat, niscaya seseorang akan membunuh Anda oleh karena perkataan Anda, dan apa yang telah Anda lakukan pun tidak akan dipedulikan,” kata Khatib ketika diwawancari ESPN belum lama ini.

Di tengah situasi dilema itu, pemain yang lama menghabiskan karier sepakbolanya di Kuwait tersebut memutuskan kembali ke timnas dan mengemban jabatan kapten, serta memimpin rekan-rekan satu timnya. Ia sebenarnya sempat menjadi bahan kecaman publik Suriah karena dicap sebagai pengkhianat. Tetapi Khatib telah memikirkan risiko ini. Ia mengatakan bahwa keputusannya ini akan membuat setengah penduduk Suriah mencintainya dan setengah yang lain ingin membunuhnya. Hal itu ia lakukan demi mewujudkan impian Suriah untuk pertama kalinya berlaga di ajang Piala Dunia. Publik sangat menantikan dan berharap impian masyarakat Suriah dan Khatib dapat terwujud. Setidaknya hingga saat ini, Suriah telah berhasil mendekatkan diri menuju Piala Dunia 2018 pada pertengahan tahun depan. Walau Australia dan salah satu tim dari Amerika Utara (jika menang melawan Australia), sudah siap untuk menjegal langkah mereka.