Dampak Positif Jika Piala Dunia 2018 Diikuti 48 Tim

Bandar bola piala dunia 2018 – Jumlah kontestan Piala Dunia mengalami banyak perkembangan dari waktu ke waktu. Ajang perdana turnamen antarklub dunia ini dimulai di Uruguay pada tahun 1930 silam dengan kontestan hanya 13 tim. Selanjutnya, penyelenggaraan ini semakin menemukan bentuk terbaiknya dengan total kontestan 32 tim seperti sekarang ini dan format ini terakhir kali digunakan pada Piala Dunia 2014 di Brasil.

Sebuah inovasi baru pun ditelurkan oleh Presiden FIFA saat ini, Gianni Infantino untuk menambah jumlah kontestan Piala Dunia di tahun-tahun mendatang. Rencananya, untuk gelaran Piala Dunia 2026 jumlah peserta akan bertambah sebanyak 50% atau menjadi 48 tahun. Inovasi tersebut tidak luput dari pro dan kontra.

Untuk sementara, kita menyisihkan sejenak soal pro atau kontra. Dengan inovasi yang coba direalisasikan Infantino, ternyata banyak dampak positif yang bisa didapatkan. Dil luar kacamata sepakbola, format 48 tim akan menghadirkan keuntungan di bidang pariwisata, manajemen, sosial, budaya, dan tentu ekonomi.

Satu hal yang tidak berubah dari tawaran format 48 tim ialah jumlah laga yang dimainkan oleh tim yang lolos hingga partai puncak.

Seluruh tim yang berjumlah 48 itu akan terbagi dalam 16 grup, masing-masing berisi 3 tim. Selanjutnya, 2 tim terbaik di setiap grup akan maju ke babak gugur 32 besar. Dengan ini, total laga yang dihasilkan format 48 tim adalah 80 laga.

Sejauh ini, format 32 tim mampu menghasilkan sejumlah 64 pertandingan. Ambilah, suatu tim yang lolos ke partai puncak nantinya akan melakoni 3 laga babak grup dan 4 laga babak grup, totalnya 7 laga.

Jumlah kontestan yang makin bertambah tidak juga menambah jumlah laga yang ditempuh oleh suatu tim yang tembus hingga babak 4 besar.

Dengan ini, kekalahan yang didera akan sama bagi para pemain yang timnya tembus hingga babak 4 besar. Hal lain yang mungkin akan berpengaruh ialah jarak, cuaca, iklim, ataupun ketinggian dimana faktor tersebut sangat terkait siapa tuan rumah Piala Dunia.

Bicara soal tuan rumah, Piala Dunia 2026 sendiri belum memilih Negara penyelenggara. Walau begitu, ada kemungkinan yang menyebut bahwa zona CONCACAF atau UEFA kembali mendapat jatah sebagai tuan rumah.

Kita pun tidak boleh melupakan OFC (Oseania). Salah satu anggota konfederasi FIFA yang belum pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Kehadiran lebih banyak Negara diyakini membuat turnamen akan lebih menarik. Pada prakteknya, jumlah 48 tim tadi akan didistribusikan menjadi Bandar bola piala dunia 2018 sebagai berikut, 16 untuk Eropa, 9 untuk Afrika, Asia 8,5, Amerika Selatan 6, CONCACAF 6,5, Oseania 1, dan 1 untuk tuan rumah. Untuk zona yang mendapat jatah 0,5 berarti tim dari konfederasi tersebut wajib melakoni laga play-off.

Meski belum ada info remi, format diatas sepertinya akan menghadirkan atensi tersendiri. Daya akomodasi turnamen menjadi di kisaran 22,75 % dari total 211 anggota FIFA.

Saat ini negara anggota FIFA berjumlah 211. Dengan 48 tim di Piala Dunia, berarti turnamen ini akan mengakomodasi 22,75% dari seluruh negara anggota mereka.

Peluang tim-tim medioker seperti Indonesia akan semakin terbuka dengan format 48 tim ini. Tak hanya itu, keseruan juga akan hadir lewat format 2 laga yang akan dilakoni oleh setiap tim di setiap grup. Kedua laga tersebut menjadi sangat krusial bagi kelanjutan mereka di turnamen tersebut. Hal ini akan memaksa tim-tim bermain serius agar memastikan diri lolos ke fase gugur. Kita tidak akan lagi menyaksikan tim-tim yang sudah lolos dari fase grup hanya malkoni laga sisa sebagai formalitas saja.

Tetapi, FIFA sendiri sudah mengantisipas terjadinya main mata di fase grup. Hal ini jelas dihindari untuk menjaga sportivitas permainan.

Minat masyarakat yang tinggi terhadap sepakbola, termasuk Piala Dunia menjadikan ajang ini sebagai perhelatan akbar Internasional. Dampak pada bidang Sosial, Budaya, Ekonomi dan Lingkungan akan muncul berkat gelaran Piala Dunia di wilayah tersebut.

Tambahan profit sebesar 1 Miliar Dolar diprediksi akan menjadi milik FIFA berkat format 48 tim ala Infantino.

Negara tuan rumah bisa jadi tujuan Pariwisata, atau lazim disebut sebagai Sport Tourism Destination dimana berpotensi menghadirkan keuntungan ekonomi yang tidak sedikit. Tak hanya itu, pengembangan pun akan digalakan jelang perhelatan, terutama infrastrukutur seperti Stadion dan sarana pendukung lain. Namun, pengembangan harus didasari rasionalitas wilayah, jika tidak malah berimbas kepada bertambahnya beban wilayah atau kota tersebut.

Investasi pada bidang sepakbola diprediksi juga makin menjamur. Program pengembangan usia muda jadi salah satu incarannya. Lewat program ini diharapkan Piala Dunia mampu menghadirkan keseimbangan antar tim kontestan.

Sekiranya, Piala Dunia memang sudah seharunya jadi ajang milik semua Negara. Inovasi yang dibuat oleh Infantino mungkin memang sedang menuju kesana. Walaupun kualitas permainan belum mampu kita harapkan lewat ajang seperti ini, setidaknya gelaran Piala Dunia cukup mampu memberi dampak lain di luar sepakbola.